Tanggap bencana – Catatan dari Rebo Belajar

Percaya tidak, Indonesia ini ternyata sama rawan gempanya dengan Jepang! Gunung berapinya juga banyak, lagi. Kenapa kita baru sadar sekarang-sekarang ya? Heran…

Tapi menurut Manyu, teman kita dari Teknik Geofisika ITB, kita perlu bersyukur diberi kesempatan hidup dekat dengan bahaya. Itu berarti kita bisa bersahabat dengan bahaya, dan mempersiapkan diri untuk mengurangi dampaknya ke manusia.

Bahaya dan bencana itu beda lho!

Gunung berapi, daerah rawan gempa, itu namanya bahaya (hazard). Hazard ini bisa berupa gejala alami ataupun buatan manusia, misalnya Tempat Pembuangan sampah Akhir, atau TPA, yang tidak dikelola dengan baik.

Trus bencana itu apa? Bencana (disaster) adalah dampak/kerusakan yang diakibatkan oleh bahaya tersebut terhadap manusia. Nah, bahaya mungkin gak bisa kita hindari (masa harus pindah negara biar aman dari gempa?) Tapi, bencana bisa kita kelola, kita usahakan supaya kerusakannya minimal.

Pengelolaan bencana itu ada 5 macam, yaitu:

1. Tanggap darurat – ini yang sering kita lihat di TV/media lain. Begitu bencana terjadi, perawatan korban, evakuasi, penyebaran bantuan, pendirian posko dan sebagainya termasuk bagian tanggap darurat.

2. Pemulihan – yang ini sepertinya tidak terlalu banyak diperlihatkan di TV/media lain, tapi seharusnya setelah bencana selalu ada tahap pemulihan. Seperti namanya, tujuan kegiatan ini adalah memulihkan kehidupan para korban bencana agar dapat berjalan normal. Hal ini termasuk pemulihan mental, pembangunan kembali infrastruktur, dsb.

3. Pencegahan – semua usaha untuk mengurangi atau meniadakan ancaman bencana. Misalnya, membersihkan dan mengeruk sungai untuk mencegah banjir, menjaga hutan di lereng gunung untuk mencegah erosi/longsor.

4. Mitigasi – semua usaha untuk mengurangi dampak bencana. Mitigasi ini bisa dilakukan dengan membangun infrastruktur, seperti bangunan tahan gempa dan tanggul untuk pemecah ombak tsunami, juga secara non-infrastruktur misalnya memberikan pendidikan kepada masyarakat. Untuk yang satu ini, menarik juga kalau kita lihat kearifan lokal bangsa kita sendiri. Saat gempa Jabar 2 september, rumah-rumah adat yang dibangun dengan bambu dan kayu ternyata tetap tegak berdiri, sedangkan rumah modern dari bata dan beton malah runtuh.

5. Kesiapsiagaan – melakukan pengorganisasian dan membuat sistem, agar sewaktu bencana terjadi, tindakan cepat bisa segera dilakukan. Misalnya membuat mekanisme alarm/peringatan, mekanisme pendataan, kordinasi dan pendistribusian bantuan. Kesiapsiagaan juga bisa kita lakukan dengan menyiapkan “emergency pack”, yaitu satu wadah berisi dokumen penting dan perlengkapan untuk bertahan hidup ketika terjadi bencana, diletakkan di tempat yang mudah dijangkau.

Nah, setelah tahu ini semua, sekarang apa yang bisa kita lakukan untuk membantu pengelolaan bencana?

Di multiply kami (sahabatkota.multiply.com) ada file buku anak-anak, isinya pendidikan tentang tanggap bencana dari ITB. Teman-teman bisa mengunduh dan menyebarluaskannya, supaya semakin banyak orang yang mengerti tentang tanggap bencana. Dengan begitu, moga-moga kalau terjadi bencana lain, kita bisa menanggapi dengan lebih baik dan mengurangi jumlah korban.

Setiap tindakanmu berarti, seberapapun kecilnya – bahkan bisa menyelamatkan nyawa. Semangat ya!

Advertisements

About sahabat kota

Sahabat Kota adalah sebuah organisasi nirlaba yang bekerja bersama kaum muda lokal untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak-anak dalam konteks lingkungan kota. Pada tahun 2007, Sahabat Kota mulai dirintis oleh 6 orang pemuda dari Bandung. Saat itu kegiatan pertama Sahabat Kota adalah mengisi libur panjang anak-anak menjadi Petualangan Jelajah Kota yang seru. Anak diajak untuk mengeksplorasi kota, dan mengambil peran aktif untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi mereka. Kami percaya bahwa anak-anak belajar paling baik dari lingkungan hidup mereka, yang berarti kota itu sendiri. Hidup selaras dan berinteraksi secara positif dengan lingkungan sekitar, baik alam maupun sosial, akan memberikan pembelajaran berharga bagi perkembangan fisik dan karakter anak. Karena itu menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal merupakan kewajiban seluruh warga kota, termasuk kaum muda. Sahabat Kota dengan gerakan COME OUT & PLAY nya aktif mengajak adik-adik untuk belajar dan bermain di ruang kota dengan program-program utama, yaitu Kidsventure Club, ALUN ULIN, dan Sahabat Kota SUMMER CAMP.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: