Sepedahan museum dan cicip stilasi bandung lautan api

Sebelum sharing ceritanya yang panjang banget, kita sarikan dulu pesen kita nih..,heheh sederhana aja:
1. Kota kita ini punya banyak potensi untuk dieksplorasi dan diapresiasi. Banyak site belajar yang membuat kita berpikir bahwa kota ini memang punya potensi buat jadi kota yang ramah dan maju. Museum, taman kota, pasar, rumah baca, kuliner, buanyakk..

2. Sepedahan itu bisa dilakuin sama siapa aja, kapan saja dan kemana aja dan oleh sepedah jenis apa saja, asal layak gowes, dan nyaman bagi penggowesnya.

3. Banyak banget jalur sepeda dan jelajah kota (mau jalan atau ngangkot juga bole) yang bisa kita eksplor sendiri dan nikmati sendiri. Apalagi dengan bantuan temen2 dan kolega-kolega seperti Bandung Trail, Mahanagari, (ijin nyebut merek dikittt) informasi2 individu, dan ..ah..banyak banget pihak yang bisa diajak berbagi bersama untuk menikmati dan mengapresiasi bandung.

4. Walaupun kami banyak melewati jalur ga ramah bersepedah, dan menemui orang2 yang ga menganggap eksistensi sepedah dijalan (main mepet, ga ngasi jalan dan senggol2 aja), tapi kami inget semangat dan gerakan temen2 komunitas sepedah di bandung (bike to work, sepeda onthel, dll , buanyak banget, gabisa disebutin satu2 ey) untuk bikin bike lane dan kota ramah sepedah. Serta semangat temen-temen untuk menggelorakan bersepedah bukan sekedar hobi dan bergaya, membuat kami menjaga semangat untuk bersepedah bersama-sama. Bravo para penggiat gerakan bersepedah dibandung! Love u all lah pokona mah.heheh.

5. Moto sepedahan bari sepedahan teh asik uy, banyak angle dan momen unik yang bisa dieksplorasi, terima kasih untuk volunteer photographer kita kali ini, icak the darmastyo ws.bravo abiess!

6. Enak ey kalo ketemu pesepedah lain, mau yang lagi sepedahan kaya kita, atau yang emang kerja dengan sepedah, atau siapapun..tua muda, pasti bisa saling bertukar senyumm..beuh..bayangin kalau motor ama mobil bertukar senyumm..dikira tukang senyum kali ya..wakakakak

Narasi acara sepedahanna mah sederhana (dan menyebut beberapa merek dan nama disini.hehe)
Agni Icak dengan sepedah kembarnya, Krisna dengan sepeda balapnya, Yandi crystal dan yoris dengan sepeda roadbike tangguh, Rama dengan betis dan paha baja dan nyali (bmx tanpa rem),Serta Mufti alem dengan MTBnya. Mereka semua Berkumpul di markas sahabat kota di pagi hari, lalu berangkat bersepeda bersama, agak terlambat, yang tadinya jam 6.30 menjadi jam 07:10.
Beberapa peserta gagal mengikuti acara sepedahan ini, Gadis pentolan Bandung Cycle Chic yang sedang mengalami pusing—pusing dan sakit perut, Aldi sang filmmeker yang mengalami masalah pada pedal sepedah, Dilla pentolah Regreeneraktion yang telat bangun serta Atia , kesatria dari ujung berung yang mendadak ada acara keluarga.
Format sepedahan yang sederhana, temanya menuju dan melewati beberapa museum di Bandung, dari Dipatiukur perjalanan dimulai menyusuri Gasibu, supratman dan berhenti sejenak di Museum GEOLOGI. Lalu semua rombongan bergegas menuju museum SRI BADUGA.
Mengingat beberapa pesepedah bukan orang Bandung, pimpinan rombongan berinisiatif melewati berbagai jalan masih belum akrab bagi mereka seperti jalan suren bengawan anggrek gandapura dan menembus ke arah gudang utara, dilanjutkan melewati rel kereta api di kawasan kembang sepatu, membelah jalan malabar, melewati palasari, talaga bodas. Setelah salah satu sweeper tersesat dan rombongan berhenti sejenak, perjalanan kembali dilanjutkan menuju jalan gurame , pasar kordon dan terus menembus jalan Mohammad Ramdan.
Di kawasan Mohammad Ramdan ini , terasa arus kendaraan mulai terasa deras, apalagi setelah rombongan masuk ke jalan BKR. Keganasan lalu lintas mulai terasa, motor yang sangat kencang berlalu lalang di jalan protokol seakan tidak mengenal adanya rombongan sepedah, sehingga rombongan aga kesulitan untuk menyeberang.
Tibalah kami di tujuan pertama hari ini, yaitu museum SRI BADUGA yang terletak di seberang taman TEGALEGA. Waktu masih menunjukkan pukul 08:05 ketika kami tiba di museum, segera setelah merapihkan sepedah di dekat pos satpam, kami masuk ke museum, 7 orang berstatus pelajar dan mahasiswa, 1 orang berstatus umum / dewasa. Tiket seharga 1500 rupiah dikali 7 plus 2500 rupiah dikali 1, genaplah kami membayar tiket masuk sebesar 20000 rupiah.
Suasana museum terasa ketika kami disuguhkan oleh beberapa artefak yang ditemukan disekitar daerah jawa barat. Di lantai 2, ketika kami melihat aksara sunda dan jawa kuno, teringatlah kami dengan teh Sinta Ridwan, “ada yang kurang nih, mestinya teh Sinta sang pakar filologi datang dan menemani kita menginterpretasikan naskah-naskah ini” celetuk salah seorang dari kami. “hoo hv fun yah” begitula pesan singkat yang diterima setelah kami mengkonfirmasi kehadiran kami di museum kepada teh sinta.
Setelah puas melhat-lihat benda bersejarah,kami meluangkan waktu sejenak untuk bermain tebak-tebakan bersama Mufti. Tebak-tebakan jumlah nyamuk yang berhasil ditepuk , dengan rumus-rumus tersamarkan yang gampang-gampang susah untuk dijawab. Beberapa orang sukses dibuat penasaran dan frustasi , beberapa orang dengan bangganya berhasil memecahkan teka-teki penuh kegaringan tersebut. Beberapa menit lamanya kami terduduk di museum dan saling bergaring-garing ria, setelah hampir semua dari kami sadar bahwa kami seperti makhluk asing yang salah tempat (menggaring di museum), kami segera bergegas keluar menuju tempat berikutnya.
Targetan kami berikutnya adalah museum MANDALA WANGSIT. Rombongan menyeberang jalan, dan menuju mohammad toha. Sesampainya di kawasan mohammad toha (samping lapangan tegalega), Agni dan Icak teringat pengalaman manis bersama teman—teman BANDUNG TRAIL, hampir 3 tahun yang lalu kami berdua berkesempatan mengikuti walking tur stilasi bandung lautan api. Salah satu stilasi tersebut berada di jalan Mohammad Toha. Icak pun berinisiatif mencari stilasi tersebut dan mengajak kami semua melihat stilasi karya bapak SUNARYO tersebut. Tampak Bunga PATRAKOMALA di atas stilasi tersebut, stilasi disini menginformasikan bahwa dikawasan ini pernah berdiri stasiun radio yang merelay proklamasi pada masa kemerdekaan dulu.
Sambil mencoba mengingat-ingat ilmu yang mbak JESSIS (bandung Trail) tularkan kepada icak dan agni saat tur dulu, kami menyempatkan mengajak teman-teman untuk meninjau stilasi bandung lautan api lainnya. Pertama-tama kami ke SD jalan ASMI, stilasi jalan Dewi Sartika sekaligus sekolah dasar yang didirikan dewi sartika, serta stilasi di daerah kautaman istri –ciguriang, konon stilasi yang terletak di dalam pagar rumah pribadi ini, menceritakan tentang tempat perencanaan Bandung Lautan Api .
Perjalanan kami lanjutkan ke daerah kepatihan dan melihat stilasi yang berada di kawasan tersebut, stilasi ini sekarang terletak di halaman sebuat toko baju (factory outlet) di jalan kepatihan. Lalu icak membawa rombongan menuju makam bupati bandung (pendiri bandung) di daerah dalam kaum (belakang mesjid Agung). Disana kami mengunjungi makan keluarga besar Bupati Bandung tersebut.
Setelah puas, kami segera menuju kawasan Asia Afrika dan menyempatkan untuk lewat ke kawasan penjara Banceuy tempat Bung Karno pernah menjadi tahanan politik. Konon ruang tahanan yang dilestarikan oleh pemerintah adalah ruang tahanan yang bukan tempat menahan Bung Karno. Setelah berfoto sejenak dan bernarsis-narsis ria seperti biasanya, kami melanjutkan perjalanan ke daerah Braga, Bank BNI, tempat terjadinya peristiwa penyobekan bendera belanda menjadi bendera merah putih.
Huff…tak terasa sengatan hangat matahari telah mengingatkan kami akan waktu yang beranjak siang, kurang lebih waktu menunjukkan jam 10:25 dan kami segera melanjutkan perjalanan dari braga menuju museum mandala wangsit via jalan naripan, kejaksaan, marconi dan jalan lembong. Akhirnya kami tiba di pelabuhan terakhir kami di Museum MANDALA WANGSIT jalan Lembong. Museum ini banyak menyimpan sejarah perjuangan pasukan Siliwangi semasa mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Beberapa orang diantara kami masuk dan berkeliling museum. Lepas berkeliling, kembali kami berlempar tebak-tebakan, kali ini trio Agni Icak dan Mufti melemparkan tebak-tebakan kepada teman-teman lain (dan kembali sukses membuat mereka semua terbodohi dan penasaran.heheheh).
Setelah lelah menggaring, kami memutuskan untuk pulang, dengan menempuh rute jalan veteran, belok ke jalan vandeventer, natuna dan keluar di ujung jalan sunda di dekat rel kereta api, terus ke arah jalan sumbawa belok kanan ke jalan belitung, banda, jalan flores dan tembus ke jalan Ambon. Kami pun berlabuh di kedai warung Aceh milik Bang Fahrur. Kedatangan kami disambut hangat oleh bang Fahrur yang sedang sibuk menonton film ninja assasin di tv tokonya. Bang Fahrur ini juga suka bersepedah, dan aktif bersepeda dalam komunitas sepeda Ontel di Bandung. Garingan kembali kami lanjutkan sembari menunggu pesanan es teh tarik, cane susu dan mie aceh.Beberapa tipe garingan yang lebih advance yang dikeluarkan oleh mufti icak dan agni tampak berhasil membuat teman-teman lain semakin frustasi dan terperas otak kanannya.heheh.
Mendung disertai angin yang mulai bertiup, membuat kami yang puas menggaring segera melanjutkan perjalanan pulang. Lewat jalan lombok, citarum kami mengantar kepergian rama yang berpisah di jalan Riau. Lalu diikuti Krisna yang berpisah di daerah masjid Istiqamah. Yup. Memang di akhir perjalanan kami semua harus berpisah, Yandi dan Crystal memutuskan untuk mengunjungi museum Geologi, sementara agni icak dan mufti meneruskan perjalanan ke daerah Dipatiukur melalui jalur supratman, cikapayang dan menembus jalan kyai gede utama, hasanuddin, surya kencana , teuku umar dan raden patah. Walaupun beberapa jalan terakhir yang disebutkkan tersebut merupakan jalan-jalan kecil di kawasan dago, tetapi terjadi kemacetan luar biasa di jalan tersebut, sepeda yang ramping pun sempat agak kesulitan menembus kemacetan.
Dan akhirnya, sisa rombongan berpisah di jalan raden patah.. Mengakhiri hari yang sehat, bermakna, hari yang bersahabat dengan kota dan hari yang seru tentunya. Bersepeda melalui jalur-jalur yang jarang dilalui pesepeda pada hari libur.

Advertisements

About sahabat kota

Sahabat Kota adalah sebuah organisasi nirlaba yang bekerja bersama kaum muda lokal untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak-anak dalam konteks lingkungan kota. Pada tahun 2007, Sahabat Kota mulai dirintis oleh 6 orang pemuda dari Bandung. Saat itu kegiatan pertama Sahabat Kota adalah mengisi libur panjang anak-anak menjadi Petualangan Jelajah Kota yang seru. Anak diajak untuk mengeksplorasi kota, dan mengambil peran aktif untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi mereka. Kami percaya bahwa anak-anak belajar paling baik dari lingkungan hidup mereka, yang berarti kota itu sendiri. Hidup selaras dan berinteraksi secara positif dengan lingkungan sekitar, baik alam maupun sosial, akan memberikan pembelajaran berharga bagi perkembangan fisik dan karakter anak. Karena itu menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal merupakan kewajiban seluruh warga kota, termasuk kaum muda. Sahabat Kota dengan gerakan COME OUT & PLAY nya aktif mengajak adik-adik untuk belajar dan bermain di ruang kota dengan program-program utama, yaitu Kidsventure Club, ALUN ULIN, dan Sahabat Kota SUMMER CAMP.

One comment

  1. Di lantai 2, ketika kami melihat aksara sunda dan jawa kuno, teringatlah kami dengan teh Sinta Ridwan, “ada yang kurang nih, mestinya teh Sinta sang pakar filologi datang dan menemani kita menginterpretasikan naskah-naskah ini” celetuk salah seorang dari kami. “hoo hv fun yah” begitula pesan singkat yang diterima setelah kami mengkonfirmasi kehadiran kami di museum kepada teh sinta.

    hehehehe atuh ga kasih tau dari sebelumnya, ngasih tau pas sudah di depan naskahnya ^-^ gimana bung agni ini hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: