Dilema Angkot Bandung

Siapa tak kenal angkot alias angkutan kota? Rasanya semua orang pasti tahu karena angkot merupakan salah satu alat transportasi publik yang paling terkenal, tidak hanya di Bandung, tetapi juga hampir di seluruh kota di Indonesia. Alasannya sederhana, angkot dapat melayani pergerakan penduduk kota hingga ke berbagai sudut kota. Selain itu, jika dibandingkan dengan angkutan umum lainnya, angkot memiliki banyak kelebihan seperti biaya perjalanan yang relatif murah (terutama untuk jarak dekat), bisa diakses kapan saja, serta biaya perawatannya yang tidak mahal. Tak heran jika saat ini, di Bandung terdapat sekitar 5346 angkot yang masih setia beroperasi di 38 trayek demi melayani kebutuhan perjalanan warga kota untuk berhilir mudik setiap harinya. Yang menarik, angkot di Bandung punya cara unik untuk menunjukkan trayek yang dilewatinya. Setiap warna menunjukkan trayek yang berbeda, kalaupun ada yang sama, pasti strip-nya berbeda. Hal inilah yang kemudian menyebabkan banyak warga Bandung lebih mudah mengingat rute angkot lewat warna dibandingkan nomer trayeknya itu sendiri.

Bicara tentang angkot, tak melulu soal kemudahan akses dan transportasi. Lebih dari itu, angkot justru lebih dikenal dan diingat orang karena ketidaknyamanannya. Bahkan sudah menjadi rahasia umum kalau angkot identik dengan kesemrawutan lalu lintas, supir yang ugal-ugalan, udara panas tanpa AC, dan tempat duduk yang berdesakan. “Tujuh-lima, tujuh lima..”, begitu biasanya yang dikatakan kenek angkot. Itu artinya tujuh orang di kanan dan lima orang di kiri, belum termasuk sebuah bangku tambahan dekat pintu yang muat dua orang plus dua penumpang yang dijejalkan di kursi depan. Wow..angkot yang mungil itu ternyata bisa menampung 16 orang dalam kondisi full alias sesek, lengkap dengan supir dan kenek yang biasanya menggantung di pintu. Ya, image angkot terlanjur melekat seperti itu. Sebagai angkutan umum yang murah meriah, jangan harap ada pelayanan yang prima ketika menaiki angkot. Pendek kata, bisa sampai di tempat tujuan tepat waktu dalam kondisi selamat sudah lebih dari cukup. Namun pertanyaannya, seberapa parahkah manajemen pelayanan angkot di Bandung?

Semua berawal dari sebuah sistem dimana armada angkot yang ada saat ini umumnya dimiliki oleh perorangan dan dikelola bersama dalam koperasi. Nah, masing-masing koperasi ini memiliki trayek sendiri yang menjadi garapannya. Setiap koperasi juga berinduk pada kobanter, yang nantinya berinduk lagi pada pihak Dinas Perhubungan selaku pemilik kewenangan transportasi Kota Bandung. Dengan demikian pada dasarnya pemerintah kota tidak memiliki kekuatan penuh terhadap pengelolaan angkot dan pada akhirnya kesulitan untuk mengatur ketertiban angkot. Selain itu, dalam pengelolaan angkot juga terdapat sistem setoran yang mengharuskan supir angkot menyewa angkot kepada pemilik perorangan dengan membayar uang setoran dengan kisaran Rp 100.000- Rp 150.000 per hari. Dengan demikian, perhitungan keuntungan angkot adalah jumlah uang yang didapat supir pada hari itu dikurangi biaya sewa angkot (setoran). Hal inilah yang menyebabkan supir angkot memiliki mindset ngetem, karena mereka tertekan untuk mencapai target pendapatan lebih besar dari ongkos sewa angkot. Bahkan tidak jarang terkadang mereka harus nombok untuk memenuhi kewajiban sewa sedangkan pendapatan yang diperoleh hari itu hanya sedikit. Pantas saja kalau akhirnya angkot jadi semena-mena dan seringkali susah diatur.

Meskipun demikian, rasanya angkot masih tetap jadi primadona angkutan umum. Coba saja lihat, jika ada satu trayek angkot sedang mogok, ratusan penumpang terlantar di jalanan rela menunggu kalau-kalau ada satu dua angkot yang nekat beroperasi, sambil menanti datangnya bantuan. Ya, disadari atau tidak, angkot telah menjadi bagian dari keseharian kita. Apalagi pengalaman naik angkot, kadang bisa menjadi sesuatu yang unik dan banyak memberikan inspirasi. Pernah merasakan nikmatnya tidur di angkot karena kelelahan? Atau pernah memperhatikan perilaku para penumpang angkot yang seringkali membuat kita tersenyum simpul? Ada orang pacaran yang tangannya terus nempel kayak perangko, ada yang roknya terlalu seksi sampai membuat kita bingung harus duduk bagaimana, ada tukang gosip yang nggak bisa berhenti ngobrol, ada anak sekolah yang sibuk baca buku dambil komat-kamit menghafal, ada banci kaleng yang doyan ngamen dengan membawakan lagu hits terbaru, ada ibu-ibu yang wangi parfumnya bikin mabok se-angkot, dan masih banyak pemandangan nyeleneh lainnya. Jadi kalau belum pernah, ngangkot yu! Dijamin nggak bakal keki, apalagi nurunin gengsi..

Nah, kalau semua orang suka naik angkot, siapa tahu supir angkot atau si empunya angkot makin rajin ngerawat angkot dan memodifikasi angkotnya supaya penumpang makin nyaman. Pemerintah juga harus support denganmembuat aturan tentang standar minimum pelayanan angkot. Jadi bisa terjadi seleksi alam nih di dunia per-angkot-an. Barangsiapa yang pelayanannya maksimal akan terus bertahan, dan yang nggak bisa ngikutin standar terpaksa masuk garasi. Lumayan juga sekalian ngurangin jumlah angkot biar efektif dan efisien. Kalau perlu, diadakan kompetisi antar trayek angkot yang ada reward-nya biar angkot di Bandung bisa kayak angkot di Pulau Andalas atau Celebes sana, yang angkotnya full accessories dari mulai corak yang lebih catchy, musik stereo yang bikin jantung dar der dor, sampai kursi empuk yang bikin betah duduk di angkot. Semoga aja dengan upaya-upaya ini bisa menambah tingkat keterisian penumpang di angkot, sekaligus memperbaiki citra angkot yang terlanjur kalah pamor sama motor.

“Saya sendiri tidak setiap hari naik angkot, tapi sesekali saya selalu meluangkan waktu untuk naik angkot. Percayalah ngangkot itu memang penuh sensasi, apalagi sepanjang perjalanan kita bisa melihat sekelumit kehidupan kota ini dengan segala potensi dan masalahnya, plus perilaku unik warganya..”

Dimas Sandya (22 tahun), warga Bandung yang cinta Bandung

Advertisements

About sahabat kota

Sahabat Kota adalah sebuah organisasi nirlaba yang bekerja bersama kaum muda lokal untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak-anak dalam konteks lingkungan kota. Pada tahun 2007, Sahabat Kota mulai dirintis oleh 6 orang pemuda dari Bandung. Saat itu kegiatan pertama Sahabat Kota adalah mengisi libur panjang anak-anak menjadi Petualangan Jelajah Kota yang seru. Anak diajak untuk mengeksplorasi kota, dan mengambil peran aktif untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi mereka. Kami percaya bahwa anak-anak belajar paling baik dari lingkungan hidup mereka, yang berarti kota itu sendiri. Hidup selaras dan berinteraksi secara positif dengan lingkungan sekitar, baik alam maupun sosial, akan memberikan pembelajaran berharga bagi perkembangan fisik dan karakter anak. Karena itu menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal merupakan kewajiban seluruh warga kota, termasuk kaum muda. Sahabat Kota dengan gerakan COME OUT & PLAY nya aktif mengajak adik-adik untuk belajar dan bermain di ruang kota dengan program-program utama, yaitu Kidsventure Club, ALUN ULIN, dan Sahabat Kota SUMMER CAMP.

5 comments

  1. iya,ya dibenci tapi disayang.. 😀

  2. opie

    Angkot berjasa sangat terutama dalam dunia perkuliahan saya antar jemput sudah lah pasti….hidup angkot!!!!!!

  3. tatang

    efek domino: angkot ga nyaman–> penumpang beralih ke motor –> penumpang berkurang –> ongkos angkot ga bisa murah karena surplus2 –> makin kalah bersaing ama motor si raja jalanan masa kini–> motor makin banyak , kendaraan pribadi makin banyak –> semerawut –> naik angkot ga secepet dulu lagi, padahal nyaman pisan ey naik angkot teh.

  4. sindu

    angkot sudah tidak efektif dan efisien,untuk kota seperti Bandung dengan penduduk 2,5 juta jiwalebih, transportasi massal yang efisien,cepat dan murah seperti busway,subway ato monorail

  5. rizki

    itu bukannya gambar angkot kota padang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: