Sisi Lain kegiatan Aleut dan apresiasi kota: Social Effect

aleut pcinan

Kegiatan meng-aleut, atau mengapresiasi kota dengan jalan-jalan dan membedah sejarah adalah kegiatan yang dilakukan rutin oleh komunitas Aleut. Kegiatan ini bersifat terbuka, gratis dan sangat sarat dengan suasana berbagi ala komunitas. Sebenarnya kegiatan seperti ini dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja,dimana saja asalkan orang mau meluangkan waktu untuk sejenak mengapresiasi lingkungan sekitarnya (baca : 10 tips mengapresiasi dan mendekatkan diri dengan kota).

Disini saya mencoba berbagi renungan dan refleksi saya terhadap perjalanan terakhir bersama teman-teman aleut ke Pecinan Bandung (4 April 2010), seperti saran dari penggiat blog sahabat kota (ungs), saya mencoba meringkasnya menjadi poin-poin sederhana:

1. Ritual bersosialisasi

Setiap minggunya acara ngaleut memberi ruang untuk bersosialisasi kepada para penggiat komunitas dan warga bandung untuk sejenak mengapresiasi kembali bersama-sama sejarah kota Bandung dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Gak hanya sekedar dapet wawasan baru, tapi bisa kenal teman baru, dapet perspektif baru dari orang lain, hingga mengakses berbagai informasi lainnya.

Menarik bila menyadari bahwa ternyata kita sebagai makhluk social ternyata banyak sekali kehilangan waktu untuk bersosialisasi satu sama lain.

2. Ngariung pi tingalieun : penasaran masyarakat lokal

Kegiatan aleut bila dilihat oleh masyrakat umum, akan terlihat seperti sebuah acara plesiran dan kegiatan pemanduan turis. Sekelompok orang yang dengan antusias berkeliling kota, seperti gerombolan, membawa kamera, dan orang-orang yang paling depan membawa notes. Belum lagi para body guard yang dengan tulus ikhlas selalu mengingatkan rombongan untuk tidak berdiri di tengah jalan. 

Well, dari pengamatan langsung saya, dampak nya adalah masyarakat menjadi terusik dari keseharian disekitar tempat tinggalnya. Tengok setidaknya ada 3 apresiasi unik dari masyrakat yang dilewati oleh rombongan aleut:

  • Di tempat goyobod 1949 (jalan belakang pasar), ada masyarakat yang nyeletuk wah kayanya mau bagi-bagi sembako yeuh.
  • Di daerah sekitar pasar baru dan beberapa daerah lain, beberapa orang mengira rombongan aleut akan syuting film / reality show.
  • Di depan hotel Surabaya daerah kebonjati, masyarakat disekitar gereja mengira akan ada demo di depan hotel Surabaya.
  • Di dekat cakue osin, bahkan masyarakat sekitar mengira ada orang yang meninggal akan diantar ke kuburan, karena pada pake payung saat kepanasan.

Reaksi unik diatas adalah reaksi alamiah, tapi poin pentingnya adalah kegiatan raramean diluar keseharian masyarakat sekitar, dapat mengusik rasa ingin tahu masyarakat tersebut.

3. Setelah terusik : mengenal kembali informasi yang ada

Sebenarnya saya juga melihat beberapa orang di luar rombongan yang mencuri dengar tentang penjelasan BR (ketua rombongan) saat sedang memberikan informasi mengenai kawasan-kawasan yang dikunjungi.  Hal ini sangat menarik, karena kegiatan aleut ini selain mengusik rasa ingin tahu, juga bisa diakses langsung informasinya oleh masyarakat sekitar.  Gratis, tinggal didengar saja.

4. Kesempatan berbagi pada masyrakat: just share!

Saya membayangkan untuk kegiatan seperti ini selanjutnya, ada temen-temen yang diposisikan khusus yang memang menjaring (dan menjebak) masyarakat sekitar yang tampak ingin tahu tentang kegiatan ngaleut. Tidak hanya focus kepada rombongan, tapi dengan flyer kecil atau sekedar bertutur lisan, bisa lho kita berbagi langsung kepada orang yang tampak ingin curi-curi dengar. Informasi sejarah mengenai tempat tinggal masyarakat sangat penting untuk mereduksi AHISTORIS, alias kehilangan akar sejarah dan kepemilikan value terhadap tempat tinggalnya sendiri.

Poin pentingnya adalah, bisa lho kita melibatkan masyarakat sekitar untuk langsung terlibat bareng-bareng. Ga hanya secara sengaja mencari informasi narasumber semata, tapi bisa juga kita berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar.

5. Reduksi Ahistoris : Rasa bangga

Sebenernya para pedagang di daerah Pasar Lama, daerah Kebon Jati, atau seluruh penduduk lokal dimanapun di Bandung, akan merasa bangga bila ternyata mengetahui tempatnya memiliki nilai lebih dari sekedar tempat berniaga atau tinggal. Saya melihat kecenderungan ini ketika melihat para pedagang disekitar Goyobod 1949, merasa cukup nyaman-nyaman saja ketika telah mengetahui tujuan rombongan menyerbu goyobod tersebut.

Pasti ada sedikit rasa bangga dari mereka ketika mengetahui bahwa setidaknya tempat sehari-hari mereka hidup, diapresiasi kembali oleh orang lain dalam bentuk yang lain (sejarah, wisata kota , dll).

6. Ekonomi

Berbicara soal goyobod, tentunya akan berbicara soal barang dagangan. Ya, ga dipungkiri lagi saya makin yakin kalau kegaitan apresiasi kota macem aleut, atau sepeda kuliner akan memberikan efek yang nyata di bidang roda ekonomi. Sederhananya ketika sekelompok orang merasa lelah dan ingin jajan, warung apapun yang dilewati menjadi sasaran komersial untuk memutar uang disekitar tempat yang dikunjungi. Tentunya ini kabar baik bagi teman-teman yang anti barang kapitalis nan modern yang dijual di toko-toko besar. Hehe. Makanya ngaleut aja, dan sisakan sedikit uang kita untuk memutar uang kepada para pedagang local yang kita temui selama jalan-jalan.

Bayangkan bila secara rutin, puluhan hingga ratusan orang ngaleut atau jalan-jalan apresiasi kotanya sendiri, sejenak melupakan mall , bioskop, internet. Bisa berapa uang yang diputar di tingkat pedagang local? Temen-temen aleut ada yang coba itung uang yang muter sekali ngaleut, rata2nya berapa yang dikeluarkan rombongan untuk ganjel perut?

7. Locality

Berbicara mengenai pedagang lokal, tentunya kita jadi inget sama isu penting lokalitas. Dalam gaya hidup frugal (baca tulisan sebelumnya tentang frugal), lokalitas menjadi penting karena kita kembali memanfaatkan potensi lokal yang ada, mereduksi suatu siklus energi tertentu untuk mengakses suatu informasi atau barang.

Intiya, dengan mengapresiasi kembali sesuatu yang bersifat lokal, tidak hanya mereduksi ahistoris, tapi juga ada value lain seperti jejak ekologis, frugality dan hal-hal positif lain yang bisa kita bangun bersama kembali

8. Foto narsis dan tag? Ga hanya sekedar buat kita

Ya, emang fenomena foto narsis akan selalu ada di acara jalan-jalan seperti ini, tengok aja temen-temen SMP 11 yang dikit-dikit berpose di setiap site yang dikunjungi.  Tapi tujuan mereka tuh ternyata bukan hanya sekedar eksis di facebook, lebih dari itu mereka berusaha menceritakan kembali ruang-ruang yang mereka pernah kunjungi.

Teman-teman yang secara tak sadar main tag dan upload pun bisa berkontribusi positif untuk sekedar mengusik rasa ingin tahu teman-teman lain yang liat fotonya. dimana tuh? Kayanya asik merupakan salah satu dampak social lain dari jalan-jalan dan berfoto narsis. So. Bagi para orang yang gila foto dan moto, jangan ragu untuk selalu upload fotonya. promosi gratis bagi site bisu yang selama ini tidak terapresiasi oleh orang lain.

9. Sekali lagi : Alternatif ruang berbagi dan belajar

Beruntung punya iklim berbagi, berkomunitas dan apresiatif seperti kota Bandung. Kalau kita iseng seminggu mengosongkan waktu rutin kita, dan menggantinya dengan mengikuti kegiatan apresiasi para temen-temen komunitas. Dijamin penuh tuh jadwal.

Dimulai dari hari minggu bersama komunitas aleut, hari rabu bersama Sahabat Kota di Rabu Belajar (yess iklann),  seabreg ke
giatan di Tobucil, Reading Lights, apresiasi film di Rumah Buku, jumat sore di Braga,  kumpul sepedahan di cikapayang, sepedahan subuh bersama Cycle Chic, workshop dan diskusi di Common Room, Lapak Haratis minggu sore di PI, Ujung Berung gudangnya music cadas, Forum Hijau Bandung setiap senin, dan seabreg kegiatan lainnya. Kayanya ga ada abisnya ya.

Belum lagi kegiatan yang belum terpetakan dan terapresiasi lebih luas. Tugas kita semua lah untuk saling  mensupport dan mendukung, serta mengisi satu sama lain. Raramean saling menghargai untuk satu tujuan : Bandung yang lebih nyaman dan lebih baik (saya ingat bener pesen ini dari pak Dahmer lapak haratis). Yang penting tidak pa aing-aing dan tidak mereduksi semangat berkomunitas dan tanpa sekat.

aleut 1Well. Terima kasih .demikian sedikit refleksi saya, lagi-lagi saya selalu merasa sulit untuk menuliskan kembali materi sejarah dari jalan-jalan aleut. Bisanya nulis hal-hal seperti ini. Semoga bermanfaat (yess utang lunass).

Selamat berdampak.

Agni +Youth People Network

Komunitas Sahabat Kota

Advertisements

About sahabat kota

Sahabat Kota adalah sebuah organisasi nirlaba yang bekerja bersama kaum muda lokal untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak-anak dalam konteks lingkungan kota. Pada tahun 2007, Sahabat Kota mulai dirintis oleh 6 orang pemuda dari Bandung. Saat itu kegiatan pertama Sahabat Kota adalah mengisi libur panjang anak-anak menjadi Petualangan Jelajah Kota yang seru. Anak diajak untuk mengeksplorasi kota, dan mengambil peran aktif untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi mereka. Kami percaya bahwa anak-anak belajar paling baik dari lingkungan hidup mereka, yang berarti kota itu sendiri. Hidup selaras dan berinteraksi secara positif dengan lingkungan sekitar, baik alam maupun sosial, akan memberikan pembelajaran berharga bagi perkembangan fisik dan karakter anak. Karena itu menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal merupakan kewajiban seluruh warga kota, termasuk kaum muda. Sahabat Kota dengan gerakan COME OUT & PLAY nya aktif mengajak adik-adik untuk belajar dan bermain di ruang kota dengan program-program utama, yaitu Kidsventure Club, ALUN ULIN, dan Sahabat Kota SUMMER CAMP.

4 comments

  1. Ryzki

    Kalau tidak puas dengan pelayanan aleut!, laporkan kepada kami, namun apabila anda puas dengan pelayanan aleut!, harap sebarkan ke rekan-rekan anda,,, hahaha

  2. teni

    Usul : tambahin widget “share this on facebook” di blog ini. Biar bisa langsung di share.

    • sahabatkota

      waduh kumaha cara na teh teni?
      emangnya wordpress gratisan bisa ya?

      ismail agung (admin sekaligus mencret -menteri corat coret di internet)

  3. If only more people would read about this.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: