surat pembaca dari si Kuning.

Setelah membaca surat pembaca dari Anoa, Pesepeda yang merana, kali ini ada si Kuning si Pejalan Kaki yang memberanikan diri untuk berkeluh kesah di rubrik Surat Pembaca dan berharap pesan ini sampai kepada Bapak Wenang, penguasa Kota.

Halo,

Perkenalkan, saya Kuning yang terpaksa selalu berkedip-kedip seperti lampu hati-hati di persimpangan jalan, juga di jalan manapun tempat saya menyeberang. Kedipan saya tidak hanya supaya orang berhati-hati, tapi juga berkedip-kedip karena saya selalu harus ektra hati-hati bila menyandang predikat pejalan kaki.

Saya senang sekali berjalan kaki, karena cuaca di Bandung memang asik untuk para pejalan kaki. Berjalan kaki selain membuat badan menjadi bugar, juga merupakan kegiatan yang tidak melahirkan asap-asap hitam, hemat energi karena tidak memerlukan bahan bakar selain sepiring nasi dan lauk pauknya.

Berjalan kaki juga saya lakukan mengingat pertumbuhan kotak-kotak bermesin yang tidak terkendali, juga sepeda-sepeda berasap tak berpedal yang membludak. Sementara itu tidak ada aturan-aturan yang mengendalikan kotak-kotak dan sepeda-sepeda bermotor itu di jalan.

Melalui surat pembaca ini saya, si Kuning, hanya ingin berbagi karena sebagai pejalan kaki merasa terjajah. Berikut ini akan saya paparkan beberapa hal yang akhir-akhir ini menyiksa dan membuat saya bertanya, mengapa saya merasa terjajah.

Satu, trotoar tidak memadai. Fungsi trotoar banyak yang beralih fungsi menjadi tempat duduk untuk para pedagang kaki lima, tempat parkir motor, atau dipagari untuk alasan yang tidak jelas. Banyak pula trotoar yang keadaannya sudah tidak layak, sehingga pejalan kaki terpaksa turun ke jalan.

Dua, banyaknya mahluk berkaki dua yang mengaku punya pikiran dan hati, tapi tidak pernah berempati untuk si Kuning dan teman-teman pejalan kaki lainnya. Mereka, orang-orang yang memiliki kotak berbahan bakar yang sering kali mengisi kotaknya hanya dengan satu mahluk, sering kali merasa berhak atas jalanan. Sulit sekali hati mereka berbagi jalan untuk kami-kami para pejalan kaki.

Sehubungan dengan hal di atas, kami para pejalan kaki membutuhkan tempat menyeberang yang tidak membuat jantung kami terpaksa berolah raga dan mempertaruhkan nyawa. Kami memohon Bapak Wenang untuk memfasilitasi kami dengan sarana penyeberangan, apapun bentuknya, baik belang-belang putih yang melintas maupun jembatan yang melayang di atas kotak-kotak lalu lalang, atau apapun itu bentuknya yang membuat kami bisa bertahan hidup normal sebagai pejalan kaki. Kami juga memohon Bapak Wenang untuk menertibkan para pengguna kotak-kotak bermesin dan sepeda tak berpedal melalui sistem yang terpadu melalui rambu-rambu yang dipatuhi juga hal-hal lain yang dirasa perlu.

Sekian dulu keluh kesah dari Kuning si Pejalan kaki yang mewakili ratusan pemilik jantung yang terpaksa berolah raga karena ulah mahluk-mahluk tak berotak dan tak berhati. Mohon ditindaklanjuti oleh yang berwenang. Melalui surat ini saya baru menyampaikan keluh kesah sebagai Pejalan Kaki. Di lain waktu saya ingin berkeluh kesah karena banjir yang sudah tidak bisa diterima akal normal pikiran sehat.

Oya, ada satu yang saya tanyakan. Apakah Bapak Wenang pernah merasakan olah raga jantung ala kami? Coba Bapak menyeberangi jalan Terusan Pasteur setiap hari selama satu bulan penuh. Dijamin Bapak bisa mengerti apa yang saya keluhkan di sini.

Salam dag dig dug,
Dari si Kuning yang terpaksa ‘sport’ jantung.

repost dari Roemah Kajoemanis

Advertisements

About sahabat kota

Sahabat Kota adalah sebuah organisasi nirlaba yang bekerja bersama kaum muda lokal untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak-anak dalam konteks lingkungan kota. Pada tahun 2007, Sahabat Kota mulai dirintis oleh 6 orang pemuda dari Bandung. Saat itu kegiatan pertama Sahabat Kota adalah mengisi libur panjang anak-anak menjadi Petualangan Jelajah Kota yang seru. Anak diajak untuk mengeksplorasi kota, dan mengambil peran aktif untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi mereka. Kami percaya bahwa anak-anak belajar paling baik dari lingkungan hidup mereka, yang berarti kota itu sendiri. Hidup selaras dan berinteraksi secara positif dengan lingkungan sekitar, baik alam maupun sosial, akan memberikan pembelajaran berharga bagi perkembangan fisik dan karakter anak. Karena itu menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal merupakan kewajiban seluruh warga kota, termasuk kaum muda. Sahabat Kota dengan gerakan COME OUT & PLAY nya aktif mengajak adik-adik untuk belajar dan bermain di ruang kota dengan program-program utama, yaitu Kidsventure Club, ALUN ULIN, dan Sahabat Kota SUMMER CAMP.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: