SD PARDOMUAN : Menciptakan Keindahan dari Kesederhanaan

“Terima kasih Pak, terima kasih Bu.. Terima kasih kakak, terima kasih teman-teman..”

Ucapan tulus itulah yang selalu menjadi penutup dari kegiatan edukasi kreatif Komunitas Sahabat Kota di SD Pardomuan. Agak unik, karena biasanya di akhir kegiatan belajar mengajar hanya ditutup dengan salam dan doa. Tapi kali ini mereka mengucapkan terima kasih, kepada bapak dan ibu guru, kakak relawan, dan teman-teman mereka sendiri. Sungguh apresiasi yang luar biasa! Dan tentunya menebarkan semangat positif di setiap harinya.

Sudah tiga bulan terakhir ini  Komunitas Sahabat Kota mengadakan kegiatan edukasi kreatif setiap hari Sabtu selama dua minggu sekali di sekolah ini. Biasanya minggu ke-2 untuk kelas 6 dan minggu ke-4 untuk kelas 4 dan 5, dengan tema yang berganti setiap bulannya mulai dari Agen Peta Hijau, Detektif Makanan, Sahabat Air, dan Laskar Sampah. Tujuannya, untuk memotivasi anak untuk menciptakan masa depan yang berkelanjutan, lewat tindakan sederhana dimulai dari diri mereka sendiri.

Terletak berdampingan dengan SD Paulus di Jl. Lombok (seberang Stadion Siliwangi), sekolah ini terus meretas mimpinya untuk ‘menciptakan keindahan dari kesederhanaan’. Apalagi jika dibandingkan dengan tetangga sebelahnya, fasilitas yang ada di sekolah ini bisa dikatakan cukup minim. Sebuah ruang guru, tiga toilet, enam ruang kelas untuk 30 siswa, lapak kantin, dan halaman kecil. Sangat kontras dengan kompleks TK, SD, dan SMP Paulus yang dulu pernah menjadi lokasi shooting Film Petualangan Sherina.

Tak heran jika orang yang datang pertama kali ke sekolah ini akan sedikit bingung sekedar untuk menemukannya. Selain kurang cukup dikenal, lokasinya juga terkesan ‘nyempil’ dan ‘tanpa sekat yang jelas’ dengan kompleks TK, SD, dan SMP Paulus. Cara paling mudah, lihat saja warna pintunya. Putih untuk Pardomuan, hijau untuk Paulus. Namun demikian, kehidupan belajar mengajar di kedua sekolah ini tetap berjalan sinergis dan harmonis. Tak ada konflik, bahkan untuk lapangan pun bisa saling berbagi.

Mungkin tak banyak yang tahu, bahwa SD Pardomuan sudah berdiri sejak masa awal kemerdekaan, yakni di tahun 50-an. Konon, nama Pardomuan sendiri berarti ‘pertemuan’ dalam Bahasa Tapanuli. Filosofinya, sekolah ini adalah tempat pertemuan dari berbagai golongan, suku, ras, agama, atau singkatnya Pardomuan adalah ‘Sekolah Untuk Semua’. Bisa dikatakan, sekolah ini berjiwa nasionalis, karena disini, potret keberagaman Indonesia bisa kita lihat dengan nyata. Semua berdampingan dengan indahnya.

Lalu adakah yang istimewa dengan sekolah ini? Tidak ada. Semua biasa saja. Namun, semangat sekolah ini untuk berubah dan melakukan inovasi adalah hal yang patut diacungi jempol. Dengan segala keterbatasannya, SD Pardomuan tidak lantas murung dan mengurung diri. Mulai tahun ini, mereka bangkit dan menginisiasi kegiatan ekskul, yakni seni tari, volley, futsal, dan kegiatan kreatif ala Komunitas Sahabat Kota. Uniknya, semua tenaga yang mendukung kegiatan ekstrakurikuler adalah alumni sekolah ini. Semua dilakukan untuk menekan biaya, agar tidak ada sepeser pun yang dipungut dari siswa. Semua untuk memberikan pendidikan ynag lebih baik untuk seluruh siswanya, agar potensinya lebih berkembang.

Yang mengagumkan adalah saat kegiatan Silaturahmi & Pameran Kreasi Seni yang digelar untuk pertama kalinya dengan semangat kemandirian. Ini adalah sejarah bagi SD Pardomuan dan tentunya bukan hal yang mudah di tengah keterbatasan. Namun Pak Machlon, seorang guru sangat inspiratif, memotivasi siswa-siswanya bahwa dana bukanlah penghalang segalanya. Selama kita punya mimpi dan tekad yang kuat, semua pasti bisa diwujudkan. Alhasil dengan semangat kebersamaan, dalam waktu 9 hari, mereka semua menabung tanpa meminta sepeser pun dari orang tuanya, sehingga terkumpul dana Rp 401.000,00 untuk modal kegiatan tersebut.

Ide awal yang sederhana ini pun kemudian dikemas dengan sangat brilian. Mereka benar-benar menciptakan keindahan dari kesederhanaan. Hal ini tampak dari karya-karya anak yang dipamerkan. Semua terbuat dari bahan daur ulang dan barang-barang bekas yang kita temui sehari-hari. Ada kardus, bekas botol minuman, wadah kemasan, dan sebagainya. Tapi jangan salah, kreativitas mereka telah mengubah barang-barang tersebut menjadi karya yang menarik, detail, dan inspiratif. Di samping itu, ada juga gambar-gambar hasil karya yang anak yang dipajang per kelompok, dan tentunya, ada karya Peta Hijau Lingungan Sekolahku yang dibuat bersama kakak-kakak Komunitas Sahabat Kota.

Dekorasi ruangan juga dibuat minimalis namun penuh inspirasi. Bayangkan saja, hiasan warna-warni di langit-langit terbuat dari kertas krep sisa yang disambung-sambung. Belum lagi spanduk yang terbuat dari karung beras, wadah kemasan, dan karton bekas. Semua tidak ada yang beli. Dan yang paling inovatif adalah momen saat mereka me-‘nraktir’ orang tua mereka. Ya, mereka benar-benar ‘nraktir’ dari uang jajan mereka sendiri yang mereka sisihkan. Tidak tanggung-tanggung, segerobak bajigur bandrek lengkap dengan hidangan pisang dan ubi rebusnya, siap menjamu para orang tua yang hadir. Wow, ini baru luar biasa!

Belum lagi, sejumlah tarian dan nyanyian yang disuguhkan sepanjang acara. Semua dibalut dengan lagu dan gaya anak-anak usia sekolah dasar. Tentu saja dengan gaya yang kocak,serta jujur khas anak-anak. Jadi jangan harap ada lagu Justin Bieber dan Lady Gaga disini. Guru-guru pun ikut berkolaborasi dengan para siswa menyanyikan lagu Ayah dan Bunda, hingga sukses menitikkan air mata. Sangat mengharukan. Bukan karena suara mereka semerdu Koes Plus atau Melly Goeslow, tapi karena ketulusan mereka mempersembahkan yang terbaik bagi orang tua mereka. Dan sekali lagi, ini perdana dan baru pertama.

Apalagi biasanya tidak banyak orang tua siswa yang hadir saat pertemuan orang tua, karena takut dimintai pungutan biaya. Di samping itu, anak-anak juga sedang dalam persiapan ujian yang sangat intensif sehingga jarang ada sekolah yang nekat menyelanggarakan kegiatan yang melibatkan siswa. Namun, alih-alih membuat siswanya stres, SD Pardomuan justru mendorong anak-anak untuk rileks sekaligus memberikan kado indah bagi orang tua mereka, agar bisa menularkan semangat positif selama ujian berlangsung. Ini juga sekaligus menunjukkan, bahwa SD Pardomuan bisa bangkit dengan segala keterbatasan yang melekat padanya.

Kata kunci dari kegiatan ini adalah apresiasi. Disini terlihat bahwa sebagai sebuah lembaga pendidik, SD Pardomuan ingin turut serta melibatkan orang tua agar mendukung anaknya ketika menempuh ujian serta melibatkan anak-anak agar menghargai usaha orang tua mereka dengan menunjukkan persembahan melalui karya seni, tari, dan ‘traktiran’. Sebagai fasilitator, tak lupa pihak sekolah memberi penghargaan untuk karya terfavorit yang dipilih oleh orang tua yang hadir, untuk mengajarkan kepada anak dan orang tua pentingnya sebuah apresiasi atas usaha dan kerja keras. Yup, seperti salah satu nilai Komunitas Sahabat Kota, apresiasi = semua orang berharga.

Rasanya semua kisah di atas mungkin cukup untuk menjawab, mengapa Komunitas Sahabat Kota menjadikan sekolah ini untuk tempat berkegiatan dan melakukan aktivitas edukasi kreatifnya secara berkelanjutan. Ini adalah kesempatan bagi kami untuk sama-sama belajar tentang nilai perdamaian dan persatuan, dan bagaimana kolaborasi tercipata untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Terlebih lagi, SD Pardomuan sangat kooperatif dan apresiatif dengan kegiatan-kegiatan komunitas. Semoga saja, semangat positifnya ikut menular pada kakak-kakak relawan yang setia menjadi pendamping adik selama kegiatan edukasi kreatif berlangsung.

“Terima kasih SD Pardomuan.. mari kita bersama-sama ciptakan keindahan dari kesederhanaan, dari hal-hal kecil yang dilakukan secara berkelanjutan..” 

PS: Special Thanks untuk Bu Tini, yang telah membantu KSK untuk berkegiatan di SD Pardomuan, dan menginisiasi sebuah kegiatan ekstrakurikuler baru. Mantab!

*tulisan ini dibuat oleh Dimas Sandya, salah satu penggiat muda Sahabat Kota yang sekarang sedang megabdikan kesehariannya di Aceh dalam program Indonesia Mengajar

Advertisements

About sahabat kota

Sahabat Kota adalah sebuah organisasi nirlaba yang bekerja bersama kaum muda lokal untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak-anak dalam konteks lingkungan kota. Pada tahun 2007, Sahabat Kota mulai dirintis oleh 6 orang pemuda dari Bandung. Saat itu kegiatan pertama Sahabat Kota adalah mengisi libur panjang anak-anak menjadi Petualangan Jelajah Kota yang seru. Anak diajak untuk mengeksplorasi kota, dan mengambil peran aktif untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi mereka. Kami percaya bahwa anak-anak belajar paling baik dari lingkungan hidup mereka, yang berarti kota itu sendiri. Hidup selaras dan berinteraksi secara positif dengan lingkungan sekitar, baik alam maupun sosial, akan memberikan pembelajaran berharga bagi perkembangan fisik dan karakter anak. Karena itu menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal merupakan kewajiban seluruh warga kota, termasuk kaum muda. Sahabat Kota dengan gerakan COME OUT & PLAY nya aktif mengajak adik-adik untuk belajar dan bermain di ruang kota dengan program-program utama, yaitu Kidsventure Club, ALUN ULIN, dan Sahabat Kota SUMMER CAMP.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: